Senin, 07 September 2015

Nendes Kombet, Film Dokumenter Boso Walikan Malang


ilovemlg.com – Nendes Kombet, Film dokumenter tentang reputasi bahasa walikan Ngalam sebagai identitas Gnaro Ngalam. Satu lagi karya Mahasiswa asal malang yang sedang menyelesaikan perkuliahannya di Institute Seni Indonesia ini mencoba mengangkat bahasa walikan malang dalam sebuah karya film dokumenter yang berjudul “Nendes Kombet”. Nandes Kombet atau bahasa walikannya dari Senden Tembok ini berisikan tentang eksistensi bahasa walikan malang sebagai identitas dari warga Malang.
Kali ini ilovemlg coba menghubungi mahasiswa asal malang yang beberapa hari lalu yang sukses menggelar acara nonton bareng film dokumenternya di Kantor Malang Post ini, Saidah Fitriah.

Apa yang membuat anda tiba-tiba mengangkat tema bahasa walikan ngalam menjadi sebuah film?
Alasannya karena saya arek Malang, Sederhana. Tapi alasan utama yang melatar belakangi kami mengangkat Boso Walikan Malang (disingkat BWM untuk selanjutnya) ya karena bahasa ini memiliki nilai historis, yang unik, dan cuma malang yang punya.

Kenapa mengambil judul Nendes Kombet, apa ada arti didalam judul tersebut?
Nendes Kombet kan asal katanya itu dari bahasa jawa Senden Tembok yang diwalik secara suka-suka (seharusnya kan ‘nednes kobmet’ tapi karena BWM ini fleksibel jadinya ‘nendes kombet’ haha). Nha, menurut kami kata yang bisa bermakna ‘santai-santai’ ini cukup mewakili kosakata BWM.

Cerita apa yang anda angkat dalam film tersebut?
Film dokumenter ini bercerita mengenai eksistensi “Boso Walikan Malang” sebagai bahasa kebanggaan Arema, yang sudah ada sejak perang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, dengan fungsi awal sebagai bahasa sandi, yang hingga kini menjadi bahasa yang mampu menciptakan rasa “Satu Jiwa”.
Dengan narasumber sbb..
  • Ade d’Kross [pembina D’Kross Community]
  • A. Effendi Kadarisman, M.A., Ph.D. [Pakar Linguistik]
  • Abdul Wahab Adhinegoro [Pengacara & Penulis “Bahasa Malangan Bukan Sekedar Bahasa Walikan”]
  • Cak Kandar [Pelukis Bulu & Teaterawan]
  • Djoko Raharjo[Peneliti Boso Walikan Malang]
  • Drs. DwiCahyono, M. Hum [Arkeolog]
  • El Kepet [Dirigen Aremania & Penyiar Radio]
  • Faishal Hilmy Mauilida [Mahasiswa Ilmu Sejarah& Penulis “Dari Gangster hingga Arema”]
  • Ledome Percussion
  • Tjandra Purnama Edhi [Pemilik Soak Ngalam]
  • Imam Agus Basuki, Dr. M.Pd. [Dosen Sastra Indonesia]
  • Lucky Juligananda [Lead Vocal Youngster City Rockers]
  • Satria Bagus ‘Tiyex’ [Road ManagerYoungster City Rockers]
  • Bagus Prasetya [Trombone Youngster City Rockers]
  • Jaya [D’Kross]
  • Ovan Tobing [Penyiar Radio, MC & Pendiri AREMA]
  • Sam Tewe [Penyiar Radio Senaputra FM]
Apa yang ingin anda sampaikan lewat film tersebut?
Melalui tema BWM, kami ingin menghidupkan kembali romantisme ber-malang-ria. Kan asik kalo kita khususnya arek-arek enom malang saiki pas jagongan podo ngomong gawe BWM.
Yo kan? yo kan ker? Hehe

Apakah ada Nendes Kombet jilid 2, atau mencoba mengikutkan nendes kombet ke indie movie? hehehe
Ugomes ker, pingine kami tim Nendes Kombet bisa berkarya bareng lagi, mungkin bikin film fiksi yang pakai BWM gitu mungkin….. hehehe

Terimakasih atas waktunya mbak saidah sudah berbincang ditengah kesibukannya….
nowus wis jak jagongan hehe…… nowus lop jg ilovemlg.com sasaji

Terus berkarya Ker, seperti yang di contohkan mbak saidah dan team. Memberikan sumbangsihnya untuk kota tercintanya Kota Malang dengan Bahasa Walikannya.

sumber

Minggu, 06 September 2015

Dari Jagongan Gayeng Film Dokumenter Nendes Kombet (2)


INTERAKTIF: Suasana diskusi Boso Walikan dalam acara Jagongan Gayeng Film Nendes Kombet di kantor MalangPost.
MALANG – Boso Walikan benar-benar merupakan kekayaan budaya asli Malang. Mulai sejarah, sampai penggunaannya di masa kini, Boso Walikan memiliki sesuatu yang tak dimiliki daerah lain.
Menariknya,  boso walikan muncul dari kawasan Kidul Pasar (sekarang kelurahan Kidul Pasar, red). Saat itu, bahasa ini menjadi sandi bagi para pejuang di sekitar  tahun  1948. Boso walikan digunakan para pejuang karena di zaman tersebut, banyak mata-mata Belanda  berkeliaran di Malang.
Era itu lebih dikenal dengan era Gerilya Rakyat Kota (GRK). Boso walikan berkembang sebagai bahasa komunitas, muncul dari kesepakatan bersama dan digunakan untuk mengidentifikasi, siapa kawan dan lawan. Siapa yang bisa pakai boso walikan, dialah kawan. Sebaliknya, bagi yang tak bisa boso walikan, dialah lawan.
Seiring perkembangan zaman, boso walikan terus mengalami perkembangan. Memang awalnya boso walikan berasal dari Kidul Pasar, namun semakin lama, boso walikan terus bermunculan dari berbagai kawasan. Bentuk boso walikan dari masing-masing daerah bisa berbeda. Meski, akhirnya pertukaran bahasa terus berlangsung, sampai akhirnya boso walikan menjadi bahasa kebanggaan Arek Malang.
Seluk-beluk boso walikan ini terungkap pada Jagongan Gayeng Film Nendes Kombet, di lantai tiga Kantor Malang Post Group Ruko WOW Cluster Apple nomor 1-9, Sawojajar, Kedungkandang, Kota Malang, Jumat (4/9/15) malam lalu. Banyak dari peserta yang bercerita, mengenai sejarah, manfaat sampai perkembangan boso walikan hingga saat ini.
Berbagai pendapat dilontarkan setiap peserta. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai akademisi, budayawan, seniman, tokoh Arema, pejabat pemerintahan, sampai orang-orang Asli Malang itu sendiri. Masing-masing memang memiliki pengetahuan yang berbeda tentang boso walikan.
Ya namanya diskusi, perbedaan pendapat antar peserta pasti ada. Tapi, perbedaan pendapat itu malah menambah wawasan. Ada yang berpendapat, bahwa boso walikan ini harus dikamuskan, adapula yang menganggap kalau boso walikan ini tetap dibiarkan jadi bahasa komunitas. Tapi, di antara perbedaan pendapat tersebut, mereka memiliki kesepemahaman yang sama: Boso Walikan merupakan kebanggaan arek-arek Malang.
"Boso walikan adalah warisan bahasa, sehingga kita harus berusaha untuk bagaimana menjadikan bahasa walikan tetap bertahan sepanjang masa," kata Rudi Satrio Lelono, peserta diskusi yang juga merupakan dosen di Universitas Muhammadiah Malang (UMM), sekaligus perwakilan Dewan Kesenian Malang (DKM) dalam diskusi tersebut.
Pria kelahiran Bareng ini mengatakan bahwa sebenarnya, dalam boso walikan tak semua kata bisa dibalik. Hanya memang karena penggunaannya semakin ke arah populer, ditambah banyaknya pendatang yang datang dan ingin mengenal boso walikan, perkembangan bahasa-bahasa baru muncul.
"Kabeh (semua) jadi  Hebak. Suwun (terima kasih) jadi Nuwus, itu bukan boso walikan asli," tegasnya. Karena itu, untuk mempelajari boso walikan, Rudi yang akrab disapa Idur ini, diperlukan riset secara mendalam, karena sebenarnya ada aturan baku pada boso walikan yang tidak diketahui generasi zaman sekarang.
Hal ini dipertegas oleh Antok Yono, peserta dari DKM yang juga merupakan warga asli Kidul Pasar. Ia mengatakan, kalau tak semua kata dalam bahasa walikan itu dibalik. "Orang Malang asli pasti tahu, karena boso walikan yang benar-benar dari Malang itu punya jiwa. Susah diungkapkan, tapi kami (orang Malang asli) bisa mengerti mana yang benar-benar boso walikan, mana yang bukan," jelas Antok.Menurutnya, jiwa inilah yang menjadi karakter khusus boso walikan. Bila jiwa ini benar-benar ada, kata Antok, boso walikan bakal terdengar tegas dan santun.
Syamsu S Soeid, peserta lainnya menyebut kalau kesantunan boso walikan ini ia buktikan sendiri dengan pengalamannya. "Waktu itu ada berita di televisi yang membahas bahasa Suroboyoan (Surabaya), namun mendapat respon negatif. Tapi, saat belajar boso walikan, ternyata sangat  terdengar santun dan beretika. Karena itu, saya berharap kalau boso walikan ini terus dibudidayakan dan dilestarikan.
Dosen sastra Inggris Universitas Negeri Malang (UM) yang juga peneliti boso walikan mengatakan, kalau saat ini memang sudah terjadi pergeseran. Dulu, boso walikan memang muncul dari akar rumput, namun sekarang boso walikan bisa menembus sampai ke kelas atas. "Manfaatnya bisa dikatakan sangat baik, karena bisa membangkitkan nasionalisme dan kebanggaan masyarakat kepada Malang," ujarnya menyampaikan hasil dari penelitiannya mengenai boso walikan.
Perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang, Heri Sunarko mengatakan, kalau kegiatan dan diskusi boso walikan ini harus terus dilanjutkan, agar boso walikan asli Malang ini bisa terus dilestarikan. "Disbudpar siap mewadahi," cetusnya.
Dialog antar peserta pun terus berlanjut, sampai hampir larut malam. Acara yang diawali dengan nonton bareng Nendes Kombet, film dokumenter tentang boso walikan ini, berlangsung interaktif dan cukup menarik perhatian. "Kami harap ini bermanfaat bagi para peserta diskusi," kata Vandri Battu, Ketua Pelaksana Jagongan Gayeng Film Nendes Kombet. (erz/nug)

Sabtu, 05 September 2015

Dari Jagongan Bareng Film Dokumenter Nendes Kombet (1)



MALANGPOST - Umak Arek Ngalam? Kalau iya, pasti tahu apa artinya Nendes Kombet. Kalau merunut ke aturan Bahasa Walikannya Malang, Nendes Kombet ini berarti Senden Tembok (bersandar ke tembok). Biasanya digunakan, bila seseorang sedang bersantai-santai ria.

Nendes Kombet tak sekadar frase khas daerah. Nendes Kombet merupakan sebuah film dokumenter yang disutradarai Mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Jogyakarta. Karya yang disutradarai Sa’idah Fitriah itu itu diputar di lantai 3 kantor Malang Post, Ruko WOW cluster Apel nomor 1-9, Sawojajar, kemarin (4/9/15). Penonton pun membeludak, ternyata pemutaran film ini menarik perhatian banyak orang. 

Ada penonton dari kalangan seniman, budayawan, akademisi, bahkan para tokoh Arema rela datang untuk melihat pemutaran film ini. Mereka menonton film berdurasi sekitar 30 menit itu dengan serius, meski sesekali adegan humor membuat gelak tawa menggema di kantor Malang Post Group.
Acara dibuka oleh Sekjen DKM Johny Suhermanto, lantas dimoderatori oleh seniman seni rupa Yon Wahyuono. Ketertarikan atas film Nendes Kombet  didasari keinginan kuat untuk lebih tahu secara mendalam. Perkembangan Boso Walikan khas Malang itu, mulai dari zaman penjajahan, sampai di zaman modern seperti sekarang. Dalam film dokumenter Nendes Kombet inilah, perjalanan Boso Walikan diceritakan. Karena di balik Boso Walikan, rupanya tersimpan berbagai cerita menarik.
"Boso Walikan ini digunakan sebagai sandi, muncul karena kesepakatan bersama oleh sekelompok masyarakat di Malang," kata Dwi Cahyono, budayawan Malang yang juga menjadi narasumber pada film dokumenter Nendes Kombet.
Boso walikan itu, muncul demi kepentingan perjuangan di zaman penjajahan. Masyarakat menggunakan boso walikan untuk berkomunikasi antar sesama Kera Ngalam, sehingga orang di luar kelompok ini tidak tahu apa yang dibicarakan.
"Sekarang Boso Walikan lebih ke tren. Tapi, orang Malang sendiri banyak yang tidak mengerti, malah banyak orang luar kota yang datang ke Malang berniat untuk belajar bahasa ini," kata Yoseph El Kepet, tokoh Arema yang juga jadi narasumber di film Nendes Kombet.
Ada lagi yang bisa diketahui dari film Nendes Kombet. Siapa kira? Ternyata Boso Walikan ini juga sering digunakan untuk melakukan tindak kriminal. Ada yang bilang, Boso Walikan sering digunakan oleh para Maling atau copet bila akan beraksi dan berhadapan dengan polisi. Hingga akhir. Banyak cerita di balik Boso Walikan, yang diceritakan dari Nendes Kombet.
Husnun N. Djuraid, Komisaris Malang Post sekaligus pembicara dalam acara kemarin menyebut, pemutaran film Nendes Kombet ini merupakan salah satu upaya bagus untuk melestarikan bahasa khas Arema itu. "Boso Walikan ini punya sejarah dan tak bisa dipisahkan dari perjuangan bangsa Indonesia, khususnya Malang," tegas Khusnun.
Setelah Nobar Nendes Kombet, agenda dilanjutkan dengan diskusi film. Hadir dalam acara tadi malam, Dwi Cahyono (budayawan Malang), Tjandra Purnama Edhy (pemilik Soak Ngalam), Yoseph El Kepet (Tokoh Arema), serta tokoh dan masyarakat lainnya. Diskusi berjalan aktif, para peserta saling lempar pendapat, sampai pada akhirnya menuju kepada satu kesimpulan, bahwa Boso Walikan ini merupakan kekayaan budaya yang hanya ada di Malang. "Salam Satu Jiwa. Arema!" teriak para peserta menutup acara tadi malam. (erz/ary)  

Nonton Bareng "NENDES KOMBET" dan Diskusi Boso Walikan Sebagai Bahasa Pemersatu Sesama Genaro Ngalam

MALANGVOICE – Bahasa walikan Malang memang unik. Siapa pun ingin mengerti bahasa walikan, dan seringnya salah kaprah. Orang yang tidak faham, menganggap bahasa walikan tinggal membalik huruf dari kata-kata, padahal tidak demikian.
Hal ini tercermin dalam film berjudul “Nendes Kombet” karya sutradara Saidah Fitriah yang diputar di Malang Post, Jumat (4/9) malam. Hadir dalam nonton film dan diskusi ini, seniman, sejarahwan, wartawan, dan pelajar.
“Penulisan film ini berawal dari pengalaman pribadi saya di Jakarta. Ketika itu saya memakai kaos bergambar Singa Arema, lalu saya bertanya ke orang di pinggir jalan jalan ke stasiun. Ternyata dia pakai bahasa walikan dan akhirnya dia mengantar saya ke stasiun,” cerita Saidah.
Saat tiba di tujuan, lanjutnya, satpam stasiun memberi tahu dia bahwa yang mengantarnya adalah seorang preman yang biasa mangkal di sana. “Bahasa walikan menjadikan pemersatu, menumbuhkan primordialisme yang kental sesama orang Ngalam,” simpul Saidah.
Dalam film itu sendiri, menceritakan bahasa Malangan dari berbagai kalangan. Baik dosen, pemain bola, masyarakat umum, seniman dan lain-lain. Beberapa tokoh menekankan bahwa bahasa walikan sebenarnya tidak ada grammarnya, namun lebih dari pada kesepakatan bersama.
Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono menjelaskan, bahasa walikan Malang bukan hanya soal linguistik atau kebahasaan, tapi lebih dari itu melingkupi aspek sosial dan budaya masyarakat Malang.
“Bahasa walikan harus dihadirkan kembali dalam berbagai aspek. Jika saat ini aspek filmnya yang digarap, maka bisa juga bahasa walikan dihadirkan dalam ragam musik, olahraga, hingga pergaulan,” ujar Dwi saat menyampaikan kesannya sebagai sejarahwan.
Melihat kondisi bahasa walikan yang sudah menjamur ini, Dwi merasa perlu adanya kamus yang memuat bahasa Malangan lebih lengkap dari pada sekedar dokumentasi. “Ini mendesak, sejauh ini sudah ada upaya dokumentasi namun perlu dibukukan menjadi kamus,” tambahnya.
Ia mengusulkan kamus yang dibuat tersebut bersifat dinamis sebagaimana sifat bahasa. Setiap lima atau sepuluh tahun, kamus tersebut dapat diperbarui sehingga selalu update untuk memberikan referensi kepada setiap kalangan masyarakat.[]

Nendes Kombet, Film Dokumenter tentang Boso Walikan


Nendes Kombet, film dokumenter tentang Bahasa Walikan Malang. (Foto: Ferry/malangtimes)
MALANGTIMES Nendes Kombet, kata populer dari bahasa pergaulan warga Malang yang dalam bahasa Indonesia berarti bersandar di tembok. Dua kata ini menjadi judul film dokumenter yang disutradarai oleh Sa'idah Fitriah.
Film dokumenter ini akan bercerita tentang eksistensi “Boso Walikan Malang” sebagai bahasa kebanggaan Arema (Arek Malang) yang sudah ada sejak perang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Fungsi awal dari bahasa walikan (terbalik) ini sebagai bahasa sandi, yang hingga kini menjadi bahasa yang mampu menciptakan rasa "Satu Jiwa". 
Beragam profesi yang terkait film dan konten turut andil dalam proses pembuatan film. Di antaranya ada nama Ade d’Kross yang aktif membina komunitas di Kota Malang, A Effendi Kadarisman, MA PhD, pakar linguistik; Abdul Wahab Adhinegoro, pengacara dan penulis “Bahasa Malangan Bukan Sekedar Bahasa Walikan; Djoko Raharjo, peneliti Boso Walikan Malang; Dwi Cahyono, arkeolog UM; Dr Imam Agus Basuki MPd, dosen Sastra Indonesia; dan Ovan Tobing, penyiar radio dan pendiri AREMA.
Film ini akan diputar dan didiskusikan pada Jumat (4/9/2015) malam ini, pukul 19.30 WIB di Kantor Malang Post Jalan Raya Sawojajar 1-9 Kota Malang. (*) sumber
Pewarta : Ferry Agusta Satrio
Editor : Hari Istiawan           

Jumat, 04 September 2015

Malam Ini, Diskusi Film Dokumenter tentang Boso Walikan "NENDES KOMBET" Digelar




MALANGTIMES - Dosen, musisi, penulis buku, jurnalis, mahasiswa sampai pendeta bersiap untuk menyaksikan dan mendiskusikan sebuah film dokumenter tentang boso walikan yang berjudul "Nendes Kombet" Jumat (4/9/2015) malam ini pukul 19.30 WIB di Jalan Raya Sawojajar 1-9 Kota Malang.‎
‎Abdul Malik, salah satu panitia yang dihubungi MALANGTIMES (TIMES INDONESIA NETWORK) menginformasikan, puluhan  peserta dari beragam latar belakang dan profesi sudah mendaftarkan diri untuk hadir pada acara yang diselenggarakan Dewan Kesenian Malang, Mandala Buddhaya, dan koran lokal Malang ini.
Film yang disutradarai Sa'idah Fitriah ini akan menjadi "bahan baku" diskusi yang dikemas lesehan. Narasumber diskusi, yaitu Dwi Cahyono (Dosen Arkeologi UM), Husnun Juraid (Wartawan), dan tentunya sang sutradara film. "Akan ada pengantar diskusi dari nara sumber," ujar Malik, panggilan akrabnya.‎
Selain memutar film dan berdiskusi, acara ini akan diselingi oleh penampilan musik akustik dari Dewan Kesenian Malang. Acara seperti ini diharapkan akan mengangkat potensi lokal dan memperkaya wawasan dan pengetahuan publik di Malang Raya. (*) sumber
Pewarta : Ferry Agusta Satrio
Editor : Hari Istiawan

Kamis, 03 September 2015

Gelar Diskusi Film Dokumenter Boso Walikan "NENDES KOMBET"


MALANGPOST – Malang Post menggelar pemutaran film dan diskusi film dokumenter Boso Walikan Malang ‘Nendes Kombet’ dikemas  dalam Jagongan Gayeng  di  Kantor   Malang Post lantai 3  Jalan Raya Sawojajar 1-9, Cluster Apple  Ruko WOW, Sawojajar Malang, Jumat malam mulai  pukul 19.30 WIB besok.
Ketua panitia Vandri Van Battu menjelaskan kegiatan ini digelar bekerjasama dengan Dewan Kesenian Malang dan Mandala Buddhaya. Sebagai  nara sumber sutradara film dokumenter Nendes Kombet Sa’idah Fitriah, Arkeolog UM Dwi Cahyono dan wartawan senior Malang Post Husnun N Djuraid.
Sa’idah Fitriah menambahkan  Nendes Kombet merupakan film dokumenter tentang eksistensi ‘Boso Walikan Malang’ sebagai bahasa kebanggaan Arema ‘Arek Malang’ yang sudah ada sejak perang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. ‘Boso Walikan’ ini  awalnya memiliki fungsi awal sebagai bahasa sandi. Tapi karena trendnya, hingga kini ‘Boso Walikan’ tersebut banyak digunakan sehari-hari dan menjadi bahasa yang mampu menciptakan rasa ‘Satu Jiwa’.
“Di film ini akan diceritakan sejarah bagaimana awal ‘Boso Walikan’ dibuat, dan eksistensinya hingga saat ini,’’ katanya.Dipaparkan,  dalam film ini banyak tokoh Malang yang dihadirkan, diantaranya adalah Ade d’Kross (dembina d’Kross Community), A Effendi Kadarisman MA, Ph.D (Pakar Linguistik), Abdul Wahab Adhinegoro (pengacara dan Penulis ‘Bahasa Malangan Bukan Sekedar Bahasa Walikan), Cak Kandar dan masih banyak lagi.
Jagongan Gayeng ini  di Malang Post, karena korane Arek Malang  ini  juga menerapkan Bahasa Walikan setiap harinya. Melalui rubrik Ebes Ngalam, redaksi menghadirkan bahasa walikan itu kepada pembaca.
“Selain nonton bareng film dokumenter dan diskusi, juga ada hiburan yaitu musik akuistik dari Dewan Kesenian Malang (DKM),’’ terang Vandri seraya  mengatakan peserta yang ingin hadir bisa menghubungi nomor telepon 081-334-762-556 (Vandri Battu), 081-393-800-999 (Johny Suhermanto, Sekjen DKM),  0818-0323-0472 (Abdul Malik).(ira/nug)