Senin, 03 Agustus 2015

Mahasiswa ISI Yogyakarta Ciptakan Film 'Boso Walikan' Malang

Film Dokumenter Nendes Kombet, Mengulas tentang sejarah eksistensi Boso Walikan Malang Raya
karya Mahasiswa ISI Yogyakarta. (Foto: sdhftrh/nndskmbt)

MALANGTIMES - Perkembangan zaman yang semakin maju, membuat bahasa-bahasa lokal di daerah semakin tergeser oleh serbuan bahasa asing. Hal ini yang ditangkap mahasiswa  Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta muncul ide menciptakan film 'boso walikan' khas Malang. Tujuannya, supaya budaya bahasa walikan itu tetap lestari dan mudah dipahami secara visual.

Saidah Fitriah, selaku sutradara dalam film ini kepada MALANGTIMES mengungkapkan bahwa perkembangan 'boso walikan' dan bahasa-bahasa lokal di daerah umumnya fluktuatif, yang tergantung jiwa zamannya. Membuat bahasa lokal apabila tidak dilestarikan dalam kemasan yang kreatif akan mudah tergilas oleh bahasa asing, karena bahasa asing merupakan kebutuhan, berbeda dengan bahasa lokal.
"Kami sebagai generasi muda memiliki kewajiban untuk mendokumentasikan bahasa lokal, perlu cara kreatif seperti dalam bentuk film supaya mudah dimengerti juga oleh anak-anak," jelas Saidah, ketika dihubungi MALANGTIMES (TIMES INDONESIA NETWORK), Kamis (30/7/2015) pagi.

Film 'boso walikan' ini oleh sang sutradara diberi judul 'Nendes Kombet', melalui riset kecil-kecilan, judul 'Nendes Kombet' dipilih karena cukup populer dikalangan Arema dan mampu mewakili kosakata 'Boso Walikan' Malang daripada kosakata-kosakata lainnya.
"Kata 'Nendes Kombet' yang berasal dari Bahasa Jawa 'senden tembok' atau secara pengertian sering diartikan 'bersantai' cukup menggambarkan Arema dan Malang sebagai tempat yang enak buat santai-santai," lanjutnya.

Dalam dokumenter film tersebut, menampilkan dosen, mahasiswa peneliti 'boso walikan' hingga tokoh dan budayawan Malang seperti Effendi Kadarisman (pakar linguistik), Ovan Tobing (tokoh Aremania , Joseph El Kepet (dirijen senior aremania), Ade 'dkross' Herawanto (pembina dkross community), Lucky Juliganda (Lead Vocal Youngster City Rockers), Cak Kandar (Teaterawan), Dwi Cahyono (Arkeolog), dan lain sebagainya.

Film ini sendiri sudah dilakukan screening di Yogyakarta pada 11 Juli 2015 di Societeit Military Building. Dan direncanakan akan dilakukan screening di Kota Malang.
"Film ini kan dari 'Arek Malang', tentunya untuk Arek Malang juga. Jadi sudah seharusnya diputar di Malang dan kami berharap teman-teman di Malang bisa menyambut film ini," harapnya. (*)

Pewarta : Faishal Hilmy Maulida (MG3)
Editor : Yatimul AinunMahasiswa ISI Yogyakarta Ciptakan Film 'Boso Walikan' Malang 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar